News

Dampak Positif Geotermal Padarincang Dikuliti –

SERANG, BANTENINSIGHT.CO.ID – Proyek pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTPB) atau Geothermal di Kecamatan Padarincang, Kabupaten Serang yang saat ini masih menuai penolakan dikalangan masyarakat sekitar karena dianggap dapat menimbulkan kerusakan lingkungan.

Akan tetapi Dosen Praktisi Geothermal Independen Riki Irfan berkata lain, menurutnya keberadaan Geothermal di Kecamatan padarincang memiliki dampak positif jika dibangun dengan baik di tempat-tempat tertentu saja, khususnya yang berada di daerah cincin api atau ring of fireplace.

Menurutnya keberadaan geothermal di Kecamatan Padarincang merupakan suatu keberuntungan tersendiri. Bahkan kata dia, di beberapa negara maju seperti Belanda dan Jerman berharap dapat memiliki Geothermal.

“Orang di negara lain berharap seperti Belanda, Jerman, berharap punya Geothermal. Sampai-sampai mereka rela mengebor 3.000-5.000 meter hanya untuk 150 derajat Celsius,” katanya dalam diskusi publik yang digelar oleh DPM Unsera di aula Technopark SMK 2 Kota Serang, Jumat (30/4).

Menurutnya jika negara lain perlu menggali hingga ribuan meter untuk mendapatkan Geothermal. Nyatanya Kecamatan Padarincang hanya perlu melakukan penggalian hingga 700 meter untuk mendapatkan panas bumi 200 derajat Celsius.

“Artinya ini adalah berkah. Tinggal dimanfaatkan dengan bijak, dikontrol, ada teknologinya, ada ahlinya, dimanage dengan baik. Kalau tidak dimanage dengan baik, apa saja juga akan rusak,” ujarnya.

Lanjutnya, kekhawatiran masyarakat Padarincang dengan keberadaan Geothermal dapat menyebabkan bencana seperi lumpur Lapindo. Menurutnya kemungkinan hal itu terjadi sangat sedikit. Hal itu dikarenakan lupur Lapindo berada di batuan sedimen yang memiliki kadar lumpur dan air yang berbeda.

“Geothermal ini berbeda, batunya vulkanik, batuan keras, yang terpanaskan pun karakternya tidak sama dengan yang lain. Jadi karakter yang akan keluar dari Geothermal itu air panas yang menyembur bukan lumpur. Karena tidak ada, bagaimana caranya di batuan beku itu bisa segitunya jadi lumpur,” katanya.

Ia juga menjelaskan pengeboran geothermal tidak seperti yang dibayangkan oleh masyarakat sama halnya dengan pengeboran mencari mata air.

“Sampai saat ini di lapangan-lapangan yang sudah beroperasi, nol persen yang terjadi kegagalan. Kita sebut lapangan milik Pertamina, sarana energi, Preferrred energi, dan yang milik pemerintah, tidak ada satupun yang gagal,” ujarnya.

Sementara itu, Kabid Pengembangan Infrastruktur Energi Dan Ketenagalistrikan pada ESDM Provinsi Banten Ari James Faraddy mengatakan jika proyek geothermal di Kecamatan Padarincang tepatnya di Gunung Prakasak dilaksanakan kemungkinan listrik yang dialirkan mencapai 100 mega watt.

Dengan demikian jika pengeboran dilanjutkan maka Provinsi Banten memiliki pasokan listrik yang mumpuni. Tentunya ketergantungan dengan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) dapat ditekan.

“Satu lagi di Gunung Kelud ada 60 mega watt, sekarang sedang proses eksplorasi dua-duanya. Belum produksi, masih tahapan eksplorasi. Kalau berhasil alhamdulillah, kita punya goal awal sekitar 30 mega watt,” katanya.

Menurutnya proyek geothermal akan lebih ramah lingkungan. Hal itu dikarenakan karbon monoksida yang dihasilkan sangan sedikit. (Fikram)



https://banteninsight.co.identity/dampak-positif-geotermal-padarincang-dikuliti/?utm_source=rss&utm_medium=rss&utm_campaign=dampak-positif-geotermal-padarincang-dikuliti

Related Articles

Back to top button